Perdagangan Amerika Indonesia Saat ini Septo Indarto

9 Apr

Perdagangan Amerika Indonesia Saat ini
Septo Indarto

Sebuah kabar berita yang di kutip oleh NBC News (6/4/2017) Menteri Perdagangan Wilbur Ross menyatakan bahwa presiden Donald Trump akhir Maret 2017 telah menandatangani executive order yaitu perintah eksekutif terkait identifikasi negara-negara yang dipandang oleh Amerika Serikat telah melakukan kecurangan perdagangan dengan Amerika Serikat dan Indonesia termasuk daftar didalamnya.
Menurut Menteri Perdagangan Wilbur Ross bahwa perintah eksekutif tersebut menyerukan untuk dituangkan dalam penerbitan laporan besar yang akan dikeluarkan oleh Departemen Perdagangan dan Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat untuk mengidentifikasi terjadinya kecurangan perdagangan yang memberikan kontribusi pada defisit perdagangan Amerika Serikat. Hal ini bisa dilihat dari sudut kerjasama perdagangan bilateral Amerika Serikat dengan negara bersangkutan. Salah satu yang akan disorot oleh pemerintahan Donald Trump adalah hubungan bilateral kerjasama perdagangan antara Amerika-Indonesia yang menyebabkan defisit perdagangan kepada Amerika dan ini akan menyebabkan ekonomi Amerika dalam kerugian dalam kerjasama ini.
Di bawah pemerintahan Donald Trump ini adalah pertama kalinya pemerintah federal melakukan berbagai kajian dan analisa terhadap sebuah perdagangan yang tidak adil yang didasarkan kepada praktik yang tidak adil atas perdagangan antar negara dan yang akan dianalisa adalah produk per produk. Menurut pemerintah federal laporan ini akan diselesaikan dalam waktu 90 hari. Laporan ini akan dijadikan sebagai dasar pengambilan keputusan oleh pemerintah Amerika Serikat untuk mengkaji perjanjian perdagangan dengan negara mitra Amerika Serikat salah satunya adalah Indonesia.
Tetapi menurut Menteri Perdagangan Wilbur Ross mengatakan bahwa hal ini bukan berarti negara-negara tersebut langsung dicap sebagai negara yang curang dalam perdagangan.
Amerika Serikat saat ini sedang berjuang keras untuk keluar dari krisis ekonomi yang sangat parah. Demi menyelamatkan industrinya, pemerintah Amerika harus mampu menekan negara lain yang menjadi mitra Amerika dalam perdagangan supaya hubungan perdagangan stabil dan untung bagi kedua belah pihak, tetapi masalahnya adalah daya saing industri manufaktur Amerika Serikat sudah sangat sulit bersaing di pasar internasional untuk mampu bertahan, akibatnya banyak pabrik di Amerika yang tutup karena sulit bersaing produknya di pasar internasional, maka yang dilakukan oleh pabrik adalah melakukan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja). Jika krisis tersebut terus berlangsung dalam jangka waktu yang lama, maka hal ini yang ditakutkan oleh pemerintah Amerika Serikat, karena akan semakin sulit untuk pemulihan ekonomi.
Bagaimana dengan Indonesia menanggapi hal tersebut, kita bisa bersikap tenang dan harus menggugat keputusan tersebut ke WTO, karena kita bisa menilai bahwa pemerintah Amerika Serikat bersikap tidak konsisten terhadap kebijakan yang dibuatnya. Kita mengetahui bahwa selama ini pemerintah Amerika Serikat selalu menekankan pentingnya membangun sistem perdagangan internasional baik melalui kerjasama WTO, APEC dan kerjasama yang lainnya. Indonesia mempunyai posisi yang sangat kuat untuk melakukan hal ini.
Menurut Deputi Gurbenur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara di Jakarta, (Rabu 5/4/2017-Kompas) menjelaskan ada tiga kriteria yang mendukung bahwa Indonesia tidak seharusnya masuk dalam daftar negara yang masuk di dalam kebijakan Executive Order yang sedang di kaji oleh Pemerintahan Donald Trump.
1. Indonesia tidak termasuk dalam ketentuan negara yang memiliki defisit perdagangan dengan Amerika Serikat. Perdagangan Indonesia dengan Amerika mengalami surplus sebesar 13 milliar Dollar AS, sehingga Indonesia tidak masuk dalam kriteria tersebut.
2. Ketentuan dalam Executive Order Amerika Serikat adalah menginvestigasi negara yang memiliki surplus transaksi berjalan. Indonesia saat ini mengalami defisit transaksi berjalan yaitu sekitar 2 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada atahun 2016.
3. Investigasi atas negara yang melalukan intervensi valas di pasar, negara tersebut sengaja melemahkan mata uangnya agar ekspor lebih murah. Produk yang dipasarkan di Amerika bisa lebih murah dari segi harga.
Surplus perdagangan Indonesia dengan Amerika hanya sekitar 8,4 miliar Dollar Amerika Serikat, sementara syarat negara yang dianggap merugikan perdagangan Amerika Serikat adalah negara yang memilki surplus perdagangan lebih dari 20 miliar Dollar Amerika Serikat.
Berdasarkan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, nilai ekspor Indonesia ke Amerika Serikat mencapai angka 15,6 miliar AS dan impor hanya 7,2 miliar dollar Amerika Serikat. Artinya neraca perdagangan Indonesia surplus 8,4 miliar Dollar AS.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: