Saptuari Sugiharto dan Sedekah Rombongan Septo Indarto

29 Des

Saptuari Sugiharto dan Sedekah Rombongan

Septo Indarto

 Nama bapak Saptuari Sugiharto dari hari ke hari semakin di kenal karena kemampuannya mengelola sedekah mobile yaitu sedekah rombongan. Pria kelahiran 8 September 1979 di Yogyakarta adalah pemilik kedai digital usaha percetakan yang memiliki lebih dari 60 cabang dari 36 kota. Dia adalah alumnus dari fakultas Geografi UGM tetapi lebih berminat dalam meniti karirnya sebagai seorang pengusaha.

Sebelum mendirikan usaha Kedai Digital dia telah berpindah-pindah kerja dan melakukan banyak pekerjaan yang berbeda dengan beragam profesi. Semenjak kuliah dia pernah menjadi penjaga tas di koperasi mahasiswa UGM, penjual ayam kampung, penjual batik dan celana gunung, penjual stiker, marketing radio, salesman di sebuah perusahaan operator telepon seluler sampai akhirnya bekerja kantoran di sebuah perusahaan teknologi informasi. Tapi semua itu tidak membuatnya betah hingga akhirnya dia mendirikan Kedai Digital. Kedai Digital mempunyai produk yaitu agar setiap orang dapat membuat pernik-pernik pribadi bergambar dirinya atau keluarga, seperti gambar Mug yang ada foto pribadi.

Saptuari Sugiharto mendirikan Kedai Digital dari sebuah kamar kecil berdinding triplek berukuran 2 x 7 meter di Jalan Cendrawasih, Demangan Baru, Yogyakarta. Kios itu di sewa sebesar Rp 20 juta setahun dengan uang yang berasal dari gadai rumah dan sepeda motor milik orang tuanya. Dia membuka usaha merchandise dengan konsep pribadi (personality self) yang di buat dalam bentuk mug, jam, pin dan kartu nama. Semboyang bisnisnya adalah Bikin muk satoe sadja. Awal bisnis berjalan cukup rumit karena barang yang di jual sifatnya pribadi dan bukan dalam jumlah besar. Ditawarkan dengan harga murah meriah yang disesuaikan dengan kantong mahasiswa. Walaupun begitu konsep ini menjadi keunggulan sendiri. Brand Kedai Digital mulai di kenal masyarakat khususnya kaum muda.

Tetapi apa yang terjadi? Setelah dua tahun berdiri dan tumbuh dengan kerja keras pada tahun 2006 bisnis Kedai Digital hampir bangkrut karena gempa bumi dahsyat melanda Yogyakarta. Semua aset baang di kantornya rusak. Tetapi kemudian bisnisnya mulai tumbuh lagi dengan menawarkan berbagai macam variasi produk yang disukai oleh konsumen. Dia juga kemudian mendirikan ikon brand yang terkenal yaitu Jogist (Artinya Jogja Istimewa). Setelah tujuh tahun berjuang akhirnya usahanya membuahkan hasil dan semakin besar. Saat ini bisnisnya terus berkembang. Saat ini bisnisnya berkembang dia mempunyai brand warung mas kingkong, bakso iga lunak, bakso granat pedazz.

Sedekah Rombongan

Sedekah rombongan berawal dari tulisan Saptuari mengenai Putri Herlina bulan Juli 2011 yang di tulis di blognya www.saptuari.com. Yang kemudian muncul respon luar biasa dari para pembaca blognya, banyak pembaca yang mengirim sms dan memposting twitternya untuk menitipkan sedekah kepada dirinya. Ada pembaca yang meminta untuk diberikan kepada panti asuhan dan ada yang meminta dibagikan kepada siapa saja yang memerlukannya. Dia menulis seperti MENDAPATKAN AMANAH DARI LANGIT untuk kepercayaan ini. Bisa dibayangkan para pembaca yang berasal dari dunia maya dan tidak pernah bertemu sama sekali rela untuk berbagi dengan memberikan sedekah kepada yang berhak.

Akhirnya ketika banyak yang mempercayakan hal ini kepada pak Saptuari maka gerakan ini terus berlanjut dengan mendirikan kegiatan sedekah yang dinamakan #SedekahRombongan. Tanggal 9 Juni 2011 diputuskan sebagai hari kelahiran #SedekahRombongan. Akhirnya karena kegiatan ini semakin berkembang dan padat maka beliau mengajak beberapa sukarelawan untuk gerakan ini. Mereka tidak di gaji, bahkan biaya bensin untuk pergi kesana-kesini menjadi tanggungjawab sendiri. Sasaran sedekah rombongan adalah para Dhuafa yang menjadi target untuk di tolong.

Target Sedekah Rombongan adalah:

  1. Panti asuhan anak cacat.
  2. Panti asuhan bayi terlantar.
  3. Panti asuhan yatim piatu.
  4. Janda-janda tua Dhuafa.
  5. Anak-anak/Dewasa/Orang Tua Sakit dan tidak mampu.
  6. Biaya sekolah anak yatim dan Dhuafa.
  7. Pondok pesantren yang sedang di bangun/kekurangan.
  8. Mushola/Masjid yang sedang di bangun.
  9. Kebutuhan alat ibadah (Al Qur’an, sarung, Mukena dll).

Misi Sedekah Rombongan menyampaikan titipan dari langit, tanpa perlu rumit, sulit dan berbelit-belit.

 

Visinya: Ini adalah sedekah jalanan, ini tentang obat yang belum terbeli, beras dan lauk yang belum terbayar…tentang susu dan makanan bayi yang habis esok hari, juga biaya sekolah yang tertunda…juga tentang bangunan panti, pondok, tempat tinggal bersama yang harus di tambah luasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: