Menjadi Pemimpin yang Amanah

29 Okt

Menjadi Pemimpin yang Amanah
Septo Indarto

Menjadi pemimpin yang amanah dalam ajaran Islam adalah pemimpin yang dipercaya untuk memimpin umat. Pemimpin yang amanah harus mempunyai latar belakang yang kuat dalam kompetensi kepemimpinan dan juga ahli dalam ilmu agama. Pemimpin seperti itu harus menjadi panutan umat, dia harus bisa membimbing umat untuk hidup harmonis, menciptakan keadilan dan bisa menyelesaikan setiap permasalahan yang ada di tengah-tengah umat.
Syarat-syarat menjadi pemimpin yang amanah adalah:
1. Beragama Islam.
2. Akil Baligh dan Berakal.
3. Pria.
4. Mampu untuk memimpin (Kafaah).
5. Merdeka (Bukan budak).
6. Sehat indera dan seluruh anggota badannya.
Keenam syarat tersebut harus menjadi pedoman bagi umat Islam untuk memilih dan mengangkat pemimpin yang amanah. Tujuannya untuk kebaikan umat itu sendiri. Umat memerlukan pemimpin yang mampu mengaturnya ke jalan Allah SWT, sehingga dapat menciptakan masyarakt yang sejahtera, berkeadilan dan juga masyarakat yang relijius.
Menjadi pemimpin amanah bukan tugas yang mudah. Dia harus berdiri tegak untuk membela kepentingan umat. Dia tidak boleh di peralat oleh sekelompok individu atau kelompok tertentu yang mempunyai banyak kepentingan. Jika dia bisa diperalat maka kehidupan masyarakat akan berjalan penuh kekacauan karena dia tidak bisa membela kepentingan umat. Oleh karena itu orang yang memimpin harus mempunyai sifat kepemimpinan (Kafaah) tanpa itu akan sulit sekali mengatur kehidupan umat dimana masalah-masalah yang muncul akan semakin banyak dan kompleks. Dibutuhkan kecakapan dalam memimpin.
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar”. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah saw.“ Rasul saw. berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: