Perang Dagang AS-China di Tahun 2003 Septo Indarto

21 Jan

Perang Dagang AS-China di Tahun 2003
Septo Indarto (3 Februari 2004)

Selain peristiwa invasi AS ke Irak pada tahun 2003 ada peristiwa lain yang menarik untuk dibahas di tahun yang sama yaitu perang dagang AS-China. Ada hal yang membuat kesal pemerintah AS kepada pemerintah China dibidang hubungan perdagangan yaitu pemerintah AS mengalami defisit perdagangan sebesar 120 milyar dollar AS. Ini bukan angka yang kecil bagi pemerintah AS karena tidak adanya keseimbangan surplus transaksi perdagangan diantara kedua Negara yang mengakibatkan Amerika mengalami defisit yang besar dan China mendapatkan surplus yang besar jelas ini akan menyebabkan angka pengangguran di AS akan terus bertambah. Presiden boleh saja berhasil menangkap mantan Presiden Irak Saddam Hussein sebagai simbol kemenangan politik tapi posisinya akan terus terancam menjelang kampanye pemilihan presiden AS tahun 2004.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah menghukum China dengan cara peningkatan tariff atas produk-produk impor China adalah solusi yang tepat? Jawabannya tentu tidak. Sudah terlalu banyak perusahaan-perusahaan besar Amerika yang mengalihkan kegiatan produksinya di China yang bertujuan untuk mendapatkan efisiensi biaya produksi sehingga produk-produk Amerika dapat bersaing dengan harga kompetitif dipasaran dunia.
Pihak swasta AS sangat membutuhkan China sehingga jika pemerintah AS berencana meningkatkan tariff impor dari produk-produk buatan China ke AS, hal itu sama saja tindakan bunuh diri karena barang-barang yang diimpor juga adalah barang-barang dengan merek Amerika sehingga konsumen AS mendapatkan harga yang jauh lebih murah dari merek yang sama. Sebagai contoh jika sebuah perusahaan DVD Player AS berinvestasi di China maka biaya produksinya lebih murah karena buruh di China di gaji lebih murah dari pada di AS per bulannya, ketika perusahaan DVD Player tersebut memasarkan produknya yang dibuat di China ke AS, harga yang ditawarkan dapat dijual dikasaran harga 70-80 Dollar AS, jika DVD Player tersebut di buat di Amerika harganya bisa di jual berkisar 300-350 Dollar AS. Jelas produk yang dibuat di China jauh lebih murah tetapi kualitas barangnya sama sehingga konsumen yang membeli DVD Player tersebut akan lebih banyak karena harganya lebih murah dan kualitasnya cukup bagus.
Ada argumentasi yang menarik yang dikemukakan oleh Mustafa Mohatarem-dia menjabat sebagai Chief Economist General Motor mengenai China: China mengizinkan perusahaan Amerika untuk berpatisipasi dalam pertumbuhannya. Itu yang membedakan dengan Jepang. Pernyataan ini bisa kita lihat dalam konteks awal reformasi ekonomi China pada era 1990-an dibawah pimpinan Deng Xiaoping. Para pemimpin China sadar bahwa ekonomi pasar dimasa depan yang dapat menggerakan pertumbuhan ekonomi China tapi kemampuan China dalam melakukan hal ini sangat terbatas oleh karena itu diundanglah perusahaan-perusahaan asing untuk berinvestasi di China sehingga China dapat segera belajar untuk transformasi teknologi dan pemerintah China membuat Undang-undang izin investasi yang memudahkan investor asing untuk menanamkan modalnya di China. Akhirnya banyak perusahaan-perusahaan dunia , khususnya dari Amerika datang untuk mendirikan pabrik di China. Perusahaan-perusahaan Amerika melakukan investasi di China disebabkan pilihan yang sederhana yaitu memanfaatkan buruh yang murah, pasar dengan jumlah pembeli yang besar, dapat menjual produk dengan harga yang kompetitif. Siap untuk menghadapi persaingan dengan perusahaan-perusahaan Non-Amerika Serikat.
Maka sejak tahun 1994 ekspor China ke Amerika telah melonjak tiga kali lipat sampai tahun 2003 dari 39 miliar Dollar AS menjadi 137 miliar Dollar dan China mengimpor produk-produk dari AS hanya sekitar 25 miliar Dollar akibat selisih tersebut AS mengalami defisit hingga 100 Miliar Dollar lebih.
Data terbaru yang dikeluarkan oleh pemerintah Amerika Serikat pada tanggal 30-11-2003, Amerika mengalami defisit hingga $120 miliar Dollar. Hal ini menyebabkan industri-industri lokal di Amerika tidak bisa bersaing dengan barang-barang merek Amerika buatan China sehingga menyebabkan pengangguran akibat banyak pabrik yang ditutup karena tidak bisa bersaing. Bahkan menteri perdagangan AS dalam pernyataannya yang dikutip oleh kantor berita AFP tanggal 27 Okotober 2003 menuduh China telah mengeksplotasi pasar AS yang menyebabkan meningkatnya jumlah pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat.
Meningkatnya jumlah pengangguran di Amerika Serikat akan mencoreng citra Presiden Bush untuk pemilihan presiden tahun 2004. Presiden Bush boleh saja bangga dengan prestasinya menangkap mantan Presiden Irak Saddam Hussein tetapi gagal untuk menyediakan lapangan kerja di dalam negeri adalah kelemahan yang akan dimanfaatkan oleh kubu Partai Demokrat untuk menyerangnya, tentunya dia telah belajar dari pengalaman ayahnya yang sukses mengusir tentara Irak dari Kuwait pada perang Teluk pertama tapi gagal menciptakan lapangan kerja bagi rakyatnya sendiri sehingga kursi kepresidenan di ambil alih oleh Bill Clinton-Partai Demokrat.
Tapi ancaman tersebut kurang efektif, jika Amerika terus mengancam dan menuduh China tidak melakukan perdagangan yang adil dan fair. Hal ini disebabkan oleh suara pemerintah AS dan suara para pengusaha AS tidak seirama. Para pengusaha Amerika telah melihat China sebagai surge investasi dibandingkan dengan berinvestasi di Negara mereka sendiri. Para pengusaha Amerika melihat upah buruh pabrik yang murah dan dapat menjual produk dengan harga yang kompetitif ke seluruh dunia merupakan keunggulan yang diberikan oleh China.
Keunggulan ini bukan hanya jadi rebutan oleh perusahaan-perusahaan Amerika saja tapi perusahaan-perusahaan di seluruh dunia yang melihat keunggulan yang dimiliki dan ditawarkan oleh China. Perusahaan-perusahaan Amerika dan perusahaan Non Amerika banyak yang mendirikan pabrik-pabrik di kota Tianjin dan kota Guangzhou.
Hal ini membuat posisi presiden Amerika, George Walker Bush dalam posisi yang sulit, pilihannya hanya ada dua yaitu membangun industri AS yang kuat secara global walaupun investasi dilakukan diluar Amerika supaya dapat bersaing dengan harga yang kompetitif atau menyelamatkan para pekerja yang terancam pemutusan hubungan kerja (PHK) dengan konsenkuwensi industri Amerika tidak dapat bersaing secara global.
Sejak tahun 1994 ekspor China naik hingga 65% dan itu berasal dari perusahaan China dan perusahaan asing yang berinvestasi di China. Perusahaan-perusahaan Amerika juga banyak mengandalkan impor dari produknya yang dibuat di China seperti Dell Inc, Motorola Inc, Microsoft dengan produknya video gama X Box. Sedangkan peritel terbesar Amerika, Wal Mart Stores mengimpor 10% produknya dari China dan kemudian menjual produk-produk mereka di Amerika untuk memenuhi permintaan konsumen Amerika terhadap produk-produk yang murah dengan kualitas yang tinggi. Ekspor China ke Amerika yang dijual kepada periritel Wal Mart dengan jumlah $12 miliar setiap tahun dan dengan cara seperti itu Wal Mart akan menguasai 50% pangsa pasar barang kebutuhan di Amerika pada akhir dasawarsa karena Wal Mart secara konsisten akan menawarkan produk-produk murah dengan kualitas tinggi kepada konsumennya dan itu akan membuat konsumen senang untuk berbelanja di Wal Mart.
Maka tidak usah heran jika kemarahan Amerika kepada China akan semakin memuncak. Sektor manufaktur di Amerika tidak mampu bersaing dengan sektor manufaktur di China ini menunjukkan Amerika telah kehilangan daya saingnya secara global di bidang perdagangan. Di Konggres kampanye anti Produk China terus menguat dan mendesak pemerintahan Bush untuk menekan China dan kalau diperlukan untuk segera menjatuhkan sanksi perdagangan kepada China.
Presiden Bush dalam posisi sulit apakah harus menghukum China guna mencegah PHK di Amerika atau membuat perusahaan-perusahaan Amerika yang berinvestasi di China akan mendapatkan sanski dari pemerintah China jika pemerintah Amerika benar-benar melakukan sanksi terhadap produk-produk China yang diekspor ke Amerika. Maka para politisi di Konggres mencari alasan baru yang akan menudutkan China yaitu meminta China untuk merevaluasi Yuan supaya tidak terlalu rendah nilainya terhadap dollar Amerika. Walaupun Yuan di reveluasi ini tidak menjamin produk-produk China akan mahal dan pemerintah China melakukan reaksi keras terhadap tuduhan Amerika dan menuduh pemerintah Amerika mencoba mencampuri urusan ekonomi China.
Menteri Keuangan Amerika John W. Snow melakukan kunjungan ke Beijing awal September 2003 untuk meminta China melakukan reveluasi Yuan . Dia terus mendesak Beijing agar lebih melonggarkan kebijakan perdagangan yang lebih adil dengan Amerika dimasa mendatang, jika hal itu tidak dapat dilakukan maka situasinya akan lebih runyam dimana perang dagang antar kedua Negara akan lebih sengit.
Bahkan pada tanggal 29 Oktober 2003 dihasilkan sebuah resolusi yang isinya mengecam China di House of Representative (DPR) yaitu disetujui secara bulat 411 suara melawan 1 suara yang menginginkan pemerintah China lebih fair terhadap komitmen perdagangan internasional, khususnya dengan Amerika dan bersedia membuka pasarnya terhadap produk Amerika lebih besar.
Para anggota Konggres Amerika melakukan hal itu karena merasa gusar melihat perekonomian Amerika yang masih suram walaupun pada kuartal ketiga pertumbuhan ekonomi mencatat 7,2%. Bayangkan saja serbuan produk-produk China yang masuk ke Amerika menyebabkan 2,7 sampai 2,8 juta pekerja di sektor manufaktur kehilangan pekerjaan dan jumlah ini akan terus bertambah. Ini jelas akan merusak kredibilitas Amerika sebagai salah satu pemain tangguh dalam kancah perdagangan global. Tapi ada satu hal yang harus kita lihat, China dan Amerika adalah kekuatan utama ekonomi terbesar di dunia saat ini dan dimasa mendatang kedua Negara ini akan saling bergantung satu sama lain dan kerja sama ekonomi akan lebih mendapatkan prioritas yang penting. Amerika sebagai Negara superpower harus menyadari bahwa globalisasi ekonomi tidak dapat diatur menurut versinya sendiri dan China telah menunjukkan bagaimana melakukan strategi yang tepat dalam memenagkan persaingan global.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: