Sejarah Budaya Masyarakat Australia Septo Indarto (Team Double S)

11 Nov

Sejarah Budaya Masyarakat Australia

Septo Indarto (Team Double S)

Mitos mengenai Egalitarisme adalah mitos yang hidup ditengah masyarakat migran Australia. Para pendatang dari benua Eropa, yaitu bangsa Inggris dan bangsa Irlandia yang mencari kebebasan dalam mengindamkan suatu norma yang menjamin setiap orang berada dalam posisi yang egaliter. Setiap pendatang di benua Australia ingin memiliki kesempatan untuk mempertahankan haknya dan mengembangkan kehidupannya.

Sejarahwan John Hirst dalam studinya tentang masyarakat Australia di Negara bagian New South Wales sekitar tahun 1850-an telah meneliti dan menemukan  bahwa mitos egaliter ini sangat dominan. Karena pada waktu itu, masyarakat sangat menentang suatu sistem masyarakat yang didasarkan kepada garis keturunan dan urutan gelar kerajaan. Sebab sistem itu yang menyebabkan mereka harus pergi dari Negara Inggris.

Egaliterisme adalah paham moral yang dibawa dari Barat. Mereka mengharapkan mendapatkan persamaan kesempatan, persamaan tingkah laku serta persamaan hak politik. Egaliterisme dalam pengertian persamaan kesempatan dan hak-hak setiap orang tanpa memperhatikan asal-usul dan itu dianggap sebagai suatu nilai yang harus ada dan abadi di negeri Australia.

Hirst juga melihat bahwa orang-orang yang berambisi atas mobilitas sosial menginginkan keterampilan mereka dihargai oleh masyarakat umum. Mereka berusaha menggunakan gelar-gelar kehormatan tradisional Inggris untuk menguatkan kedudukan mereka dalam masyarakat koloni. Namun banyak dari mereka tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan gelar-gelar tersebut di negeri induk. Hirst mengakui bahwa nilai-nilai egaliter telah muncul dan dapat terlihat dalam perjuangan Partai Buruh untuk menciptakan politik yang demokratis dan cita-cita untuk menciptakan suatu masyarakat yang adil dan makmur.

Meskipun majalah Bulletin tidak berhasil meyakinkan orang Australia untuk memisahkan diri dari Inggris, namun setidaknya redaktur majalah itu, Archibold, sudah melegatimasikan tingakh laku seperti ketidaksopanan pada atasannya, semberono, dan ketidaknyamanan dan ketidaksenangan terhadap kemunafikan. Sikap-sikap ini menjadi bagian dari gaya hidup egaliter. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: