Kepemimpinan dan Era Demokrasi Septo Indarto (Team Double S)

29 Okt

Ada sebuah hal yang sering terjadi pemilihan para utusan anggota Dewan Perwakilan Rakyat sering kali hanya menjadi drama politik yang sudah sering diatur sedemikian rupa oleh para pemimpin, tujuannya hanya satu untuk membawa kepentingan kelompoknya dan rakyat sebagai pemegang kedaulayan sering kali disingkirkan dalam pesta demokrasi, rakyat hanya dijadikan simbol pendukung tanpa diminta partisipasinya. Kontrak politik dijadikan sebagai tujuan utama antar kelompok untuk membagi jatah kekuasaan dan jatah uang yang dibagikan secara bersama-sama. Para ketua partai akan mengajukan nama-nama kroni mereka yang dikenal sebagai teman dekat atau anggota keluarga untuk mendapat jatah. Yang menjadi permasalahan besar adalah rakyat sama sekali tidak mengenal sosok mereka, kualitas mereka, program-program mereka, visi dan misi mereka. Kontrak politik terjadi dalam ruang kekuasaan tanpa melibatkan partisipasi rakyat. Para pemimpin partai politik hanya memperkenalkan wajah mereka sebagai wakil yang peduli dengan rakyat tanpa memperkenalkan diri mereka sebagai pemimpin yang berkualitas. Kekuasaan dibagi-bagi menurut jatah kekuasaan yang disesuaikan dengan kepetingan mereka. Pada akhirnya proses demokrasi berjalan tanpa arah dan penuh dengan penyalahgunaan kekuasaan, sistem demokrasi berjalan tanpa tujuan dan hanya menjadi topeng saja, rakyat hanya dijadikan simbol pendukung dan bukan sebagai aktor utama dalam menentukan untuk memilih pemimpinnya. Demokrasi berjalan didukung dengan sistem oligarki (dipimpin oleh beberapa orang yang mempunayi kekuasaan mutlak dan pengaruh besar), demokrasi hanya sebuah nama dan oloigarki adalah sistem yang ada dalam ruangan kekuasaan itu sendiri. Kontrak politik adalah persetujuan bersama yaitu bentuk kontrak yang telah disepakati untuk memberikan jaminan satu sama lain dan saling melindungi jika para pemimpin menyalahgunakan kekuasaannya.
Partai politik menjadi organisasi yang tertutup karena hanya ditentukan oleh beberapa orang saja dalam mengambil keputusaan dan pada akhirnya partai politik menjadi organisasi keluarga besar yang dimiliki oleh sejumlah orang untuk memperjuangkan kepentingannya. Negara dipimpin tanpa mempunyai tujuan dan arah yang jelas, karena negara dijadikan sebagai organisasi keluarga, negara diperkecil fungsinya dan kepentingan kelompok diperbesar fungsinya. Ini sangat berbahaya, negara tidak ada yang mengawasi sehingga akan terjadi korupsi dalam jumlah besar dan dalam jangka panjang akan menghancurkan negara itu sendiri tanpa bisa dicegah, proses penghancuran negara dilakukan oleh ruang kekuasaan tanpa bisa dicegah sama sekali. Permasalahan utama yang muncul adalah krisis ekonomi yang menyebabkan konflik-konflik sosial yang terjadi di dalam masyarakat dan pada akhirnya menyebabkan krisis politik dan krisis kepemimpinan. Situasi darurat menjadi kenyataan tanpa bisa dicegah. Akhirnya kerusuhan dan amuk massa terjadi disetiap tempat, aparat keamanan tidak bisa menghalaunya. Sistem demokrasi bisa dijalankan dengan baik dengan syarat para elit kekuasaan memang serius untuk menjalankannya dan ingin membangun Good Governance. Para elit politik yang berada dalam ruang kekuasaan harus terus mengevaluasi kelebihan dan kekurangan kinerja mereka selama di beri mandat berkuasa dalam masa kerja mereka atau periode tertentu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: