Seorang Leader Harus Melihat Masa Depan (Septo Indarto-Team Double S)

7 Mei

Seorang Leader Harus Melihat Masa Depan
(Septo Indarto-Team Double S)

Pada abad ke 20, cara memimpin sebuah organisasi dimulai dari level Top-Down artinya manajer sebagai seorang Leader yang memimpin perusahaan menggunakan meodel hirarki dari atas ke bawah. Hal ini dipengaruhi oleh situasi Perang Dunia II dan era depresi tahun 1930-an di Amerika Serikat. Hirarki organisasi dibentuk terstruktur sesuai dengan garis militer didukung oleh Multi-Lapis struktur untuk menegakkan kontrol melalui sebuah aturan dan proses.
Orang naik pangkat karena:
1. Pencarian kekuasaan.
2. Uang sebagai status
3. Kehidupan mewah
(William H. Whyte, 1956).
Akibatnya menjadi seorang pemimpin adalah profesi yang sangat elit dimana tidak semua orang dapat menjangkaunya, dan hanya kelompok tertentu saja.
Hal ini terus berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Semuanya mengalami kegagalan, contoh bangkrutnya Enron dan Worldcom, Lehman Brothers yang menjadi krisis Wall Street. Hal ini berakibat buruk, orang mulai kehilangan kepercayaan kepada para pemimpin bisnis, karena tidak mampu mencari sebuah solusi, sementara persaingan antar perusahaan semakin keras.
Orang mulai meninggalkan organisasi model hirarki dengan garis militer yang sangat tidak efektif sama sekali. Banyak organisasi perusahaan yang menyadari model organisasi seperti ini harus dirubah, peran seorang Leader harus berubah untuk menciptakan terobosan-terobosan yang baru.
Saat ini model yang digunakan di abad ke 21 adalah organisasi belajar (dimana organisasi harus terus belajar untuk beradatapsi dengan perubahan). Organisasi belajar diisi oleh orang-orang yang berpengetahuan, mampu menunjukkan jiwa Leadership, mencari peluang menjadi pemimpin (seperti Barack Obama), membuat karya dan terus berinovasi, di usia muda mereka telah mempunyai visi tentang masa depan. Orang-orang akan mencari sebuah tantangan yang baru, generasi baru pada abad 21 ingin mencari kepuasan sejati dan arti pekerjaan mereka.
Generasi baru yang akan menjadi seorang Leader adalah untuk membentuk kembali yang terbaik untuk memimpin sebuah organisasi. CEO Unilever Paul Polman mengatakan: Saya tidak bekerja untuk pemegang saham Saya bekerja bagi konsumen dan pelanggan Saya. Pemimpin sejati pada abad 21 berfokus kepada pelanggan mengganti pemimpin hirarkis yang fokus pada melayani pemegang saham jangka pendek.
Inti dari Leadership in the 21st Century: Para pemimpin yang paling sukses akan fokus kepada mempertahankan kinerja yang unggul dengan menyelaraskan orang ke dalam visi, misi dan nilai-nilai organisasi dan memperdayakan semua kemampuan Leadership di semua tingkatan.
Organisasi perusahaan besar, seprti Microsoft, Toyota, Apple, Google etc mempunyai seorang Leader yang melihat masa depan sebuah ruang untuk inovasi. Situasi akan selalu berubah karena lingkungan yang berubah. Lingkungan yang berubah terjadi secara alami dan seorang Leader harus mampu melihat masa depan, menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi, dan yang terpenting menciptakan inovasi. Saat ini perusahaan-perusahaan bukan hanya harus bersaing tetapi harus bertahan terhadap tekanan kemudian memenangkannya. Organisasi perusahaan harus mampu melihat dua sisi:
1. Keadaan internal (perusahaan)
2. Keadaan eksternal (persaingan diluar)
Sungguh beruntung kepada perusahaan-perusahaan yang mempunyai Leader yang visioner, perubahan memang sangat menyakitkan karena sangat sulit untuk diprediksi, tetapi pemimpin yang visioner mampu menjaga organisasinya untuk membuka kepada arus perubahan walaupun memerlukan waktu. Kadang-kadang seorang Leader merasa lelah dan frustasi ketika sistem baru yang dipersiapkan dan dijalankan ternyata berjalan sangat lambat dan membutuhkan waktu yang sangat lama. Itu adalah yang sering terjadi ketika sebuah organisasi tidak siap menerima perubahan yang sedang dijalankan.
Semua organisasi memerlukan inovasi. Inovasi harus menjadi budaya kerja perusahaan. Tugas seorang Leader adalah membuat konsep mengenai inovasi dan memberikan arahan kepada anak buahnya untuk mengimplementasikan konsep tersebut menjadi wujud yang nyata dari sebuah ide yang brilian.
Saat ini perusahaan pembuat terbanag seperti Boeing dan Air Bus terus mengembangkan inovasi, sebagai sebuah kekuatan untuk menjadi ikon yang terbaik untuk memberikan pelayanan yang terbaik dalam bidang teknologi kepada klien mereka yaitu perusahaan maskapai penerbangan, seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific, Etihad Airlines, Air France, Virgin Atlantic etc.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: